Iklan Banner Atas

Bencana "Smart Home" yang Berubah Menjadi Pertunjukan Komedi Saat Lamaran Pernikahan di Depan Calon Mertua

<h1>Bencana "Smart Home" yang Berubah Menjadi Pertunjukan Komedi Saat Lamaran Pernikahan di Depan Calon Mertua</h1>

<p>Nama saya Bimo. Saya sudah mempersiapkan rencana lamaran untuk kekasih saya, Sarah, selama berbulan-bulan. Agar terlihat keren, saya menginstal sistem <em>smart home</em> di apartemen saya. Saya ingin semuanya berjalan seperti di film-film: saya cukup bilang, "Mode Lamaran," maka lampu akan meredup, musik jazz akan mengalun, dan tirai akan terbuka perlahan untuk memperlihatkan pemandangan kota.</p>

<p>Malam itu, Sarah datang bersama kedua orang tuanya yang dikenal sangat konservatif dan kaku. Saya sudah tegang setengah mati. Begitu kami duduk di ruang tamu, saya memberikan kode pada diri sendiri. Ini saatnya.</p>

<p>Saya menatap kamera tersembunyi, lalu berkata dengan suara berat dan penuh wibawa: <strong>"Hey, Bimo Home... aktifkan Mode Lamaran sekarang!"</strong></p>

<p>Sistem merespons. Namun, bukannya lampu meredup dan musik jazz mengalun, suara robotik yang keras bergema ke seluruh ruangan: <em>"Mode Lamaran tidak ditemukan. Apakah Anda ingin mengaktifkan Mode Pesta Bujang?"</em></p>

<p>Saya panik. "Bukan! Batalkan! Batalkan!" teriak saya.</p>

<p>Sistem malah menjawab dengan lebih semangat: <em>"Oke! Mengaktifkan Mode Pesta Bujang. Menyalakan lampu disko, memutar daftar lagu 'Dangdut Kenangan', dan menyalakan mesin pembuat asap!"</em></p>

<p>Seketika, ruang tamu saya berubah menjadi kelab malam murahan. Lampu warna-warni berkedip dengan kecepatan tinggi, musik dangdut koplo yang sangat keras berdentum, dan mesin asap yang saya beli secara *online* menyemburkan uap tebal ke arah muka calon mertua saya.</p>

<p>Ibu Sarah terbatuk-batuk karena asap, sementara Bapak Sarah mencoba melindungi istrinya sambil berteriak, "Bimo! Kamu mau melamar kami atau mau kami kena serangan jantung?!"</p>

<p>Saya melompat ke arah *router* Wi-Fi untuk mencabut kabelnya, tapi saya justru terpeleset karpet dan menabrak meja kopi hingga isinya tumpah ke lantai. Saya tergeletak di bawah meja dengan lampu disko yang terus berkedip tepat di atas wajah saya.</p>

<p>Di tengah dentuman musik dangdut, saya melihat Sarah tertawa. Bukan tertawa kesal, tapi tertawa terbahak-bahak sampai menangis. Dia mendekat ke arah saya yang masih terjepit di bawah meja dan berbisik, "Bimo, ini lamaran paling kacau dan paling lucu yang pernah ada. Aku belum pernah lihat Papa joget dangdut gara-gara panik asap."</p>

<p>Benar saja, saya menoleh ke arah Bapak Sarah yang tadinya kaku, ternyata dia sedang berusaha mematikan mesin asap sambil tidak sengaja mengikuti irama musik dangdut yang sedang berputar.</p>

<p>Saya akhirnya keluar dari bawah meja, masih dengan kemeja yang berantakan, dan berlutut di tengah kekacauan itu. "Sarah, di tengah musik dangdut dan asap ini... maukah kamu menikah denganku?"</p>

<p>Sarah mengangguk sambil tertawa. Bapak Sarah kemudian mematikan musiknya, menatap saya dengan tatapan yang masih agak kesal, lalu berkata, "Bimo, untuk kedepannya, cukup pakai cincin saja. Tidak perlu pakai sistem-sistem robotan. Saya sudah cukup tua untuk tidak dipaksa joget di rumah calon menantu."</p>

<p>Pelajaran hari ini: Jika kamu ingin melamar seseorang di depan calon mertua yang kaku, gunakan metode tradisional. Cincin dan kata-kata tulus jauh lebih aman daripada teknologi yang bisa berubah menjadi DJ dangdut tanpa peringatan.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah