<h1>Misi Penyelamatan "Cincin yang Hilang" di Selokan</h1>
<p>Nama saya Gani. Hari ini adalah hari besar: saya berencana melamar Ratih. Saya sudah menyiapkan skenario yang sempurna. Kami akan jalan santai di taman kota, lalu saat matahari terbenam, saya akan berlutut dengan gaya klasik sambil mengeluarkan cincin berlian kecil yang saya beli dengan menabung selama setahun.</p>
<p>Rencananya berjalan mulus sampai kami melewati jembatan kayu kecil di tengah taman. "Ratih, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," kata saya dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.</p>
<p>Saya merogoh saku jas saya. Namun, karena tangan saya berkeringat hebat, cincin itu terlepas dari genggaman. Jantung saya berhenti berdetak saat melihat benda kecil itu melenting, memantul di pagar jembatan, dan—dengan presisi yang menyakitkan—jatuh tepat ke dalam celah kayu dan menghilang ke selokan di bawahnya.</p>
<p>Hening. Ratih menatap saya dengan bingung. "Gani? Kamu kenapa?"</p>
<p>Saya tidak bisa bilang cincin lamarannya sudah hanyut. Saya panik. Tanpa pikir panjang, saya langsung memanjat pagar jembatan dan melompat turun ke area selokan yang dangkal namun penuh dengan sampah daun dan lumpur.</p>
<p>"Gani! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Ratih dari atas jembatan.</p>
<p>"Cari... cari inspirasi, Ratih! Kamu tunggu di sana ya!" sahut saya sambil merangkak di antara sampah, mencari benda berkilau itu.</p>
<p>Tak lama kemudian, beberapa orang mulai berdatangan. Mereka mengira ada orang yang mencoba bunuh diri atau mungkin sedang mencari barang berharga yang terjatuh. "Mas, butuh bantuan? Apa ada HP yang jatuh?" tanya seorang bapak-bapak yang sedang jalan sore.</p>
<p>"Bukan, Pak! Cuma... cincin! Eh, maksud saya, kunci motor!" jawab saya asal, sambil lumpur hitam menempel di kemeja putih saya yang tadinya tampak sangat rapi.</p>
<p>Misi penyelamatan itu menjadi tontonan publik. Anak-anak kecil mulai menunjuk saya, dan Ratih sudah terlihat menahan malu di atas jembatan. Saya sudah hampir menyerah ketika jari saya menyentuh sesuatu yang keras di balik tumpukan daun busuk.</p>
<p>Saya mengangkatnya ke atas dengan penuh kemenangan. Itu cincinnya! Tapi saat saya menoleh ke atas, saya baru sadar bahwa saya sedang memegang cincin itu dengan tangan yang penuh lumpur, dan baju saya sudah tidak berbentuk lagi.</p>
<p>Saya memanjat naik ke atas jembatan dengan napas terengah-engah, bau selokan menguar dari tubuh saya. Ratih menatap saya, lalu menatap cincin di tangan saya yang penuh kotoran, lalu menatap kerumunan warga yang masih menunggu jawaban apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Dengan sisa-sisa keberanian yang ada, saya berlutut—tepat di atas tumpukan tanah basah—dan berkata dengan suara parau, "Ratih, hidup ini mungkin berantakan dan penuh lumpur, tapi aku ingin menghabiskan setiap detiknya bersamamu. Mau menikah denganku?"</p>
<p>Warga yang menonton tiba-tiba bertepuk tangan. Ratih tertawa, air mata mengalir di pipinya. "Kamu gila, Gani. Kamu bau sekali, tapi ya... aku mau."</p>
<p>Malam itu, kami tidak jadi makan malam mewah di restoran. Kami berakhir di warung pinggir jalan, dengan saya yang memakai sarung dari penjual soto karena celana saya terlalu kotor untuk dipakai duduk. Itu bukan malam lamaran yang saya rencanakan, tapi itu jelas malam yang tidak akan pernah kami lupakan.</p>
<p>Ternyata, terkadang rencana yang gagal total justru memberikan kenangan yang jauh lebih romantis daripada rencana yang sempurna.</p>
Misi Penyelamatan "Cincin yang Hilang" di Selokan