Iklan Banner Atas

Misteri "Email Terlarang" di Hari Presentasi

<h1>Misteri "Email Terlarang" di Hari Presentasi</h1>

<p>Nama saya Feri. Saya adalah tipe karyawan yang selalu datang sepuluh menit sebelum kantor buka, meja saya selalu rapi, dan saya tidak pernah sekalipun membalas chat pribadi saat jam kerja. Sampai hari Selasa kemarin. Hari di mana kesempurnaan saya hancur lebur.</p>

<p>Pagi itu, saya sedang sangat kesal dengan bos saya, Pak Gunawan, karena revisi presentasi yang tidak masuk akal. Saya mengetik sebuah chat panjang lebar di ponsel yang isinya curhatan pedas kepada pacar saya, berisi kalimat-kalimat seperti: "Bos Gunawan ini otaknya memang ditaruh di dengkul," dan "Hari ini saya harus pura-pura tersenyum padahal ingin resign saja."</p>

<p>Karena buru-buru menyiapkan laptop untuk presentasi, saya tidak sadar kalau jempol saya menekan tombol "kirim" di aplikasi WhatsApp yang ternyata terbuka di grup "All Staff Kantor".</p>

<p>Begitu jempol saya terlepas, saya sadar apa yang terjadi. Mata saya terbelalak melihat centang dua biru yang muncul berderet-deret di grup berisi 50 orang karyawan, termasuk Pak Gunawan sendiri.</p>

<p>Dunia seakan berhenti berputar. Saya mencoba menghapus pesan itu dengan fitur *Delete for Everyone*, tapi internet kantor yang lambat membuat prosesnya seperti siput yang sedang maraton. Saya melihat Pak Gunawan mengeluarkan ponselnya, membacanya, lalu menatap tajam ke arah ruangan saya.</p>

<p>Saya panik. Saking paniknya, saya melakukan hal yang paling tidak masuk akal: saya pura-pura pingsan di kursi.</p>

<p>Tentu saja tidak ada yang percaya. Rekan kerja saya, Santi, menyenggol bahu saya dengan pulpen. "Feri, bangun. Pak Gunawan jalan ke sini, dia bawa ponselnya."</p>

<p>Saya membuka satu mata. Pak Gunawan berdiri di depan meja saya dengan wajah yang sangat datar. "Feri, jadi menurut kamu otak saya ada di dengkul?" tanyanya dengan suara tenang yang mengerikan.</p>

<p>Saya menegakkan tubuh, keringat dingin membasahi kemeja saya. "Itu... itu autokorek, Pak. Maksud saya, otaknya harusnya ada di 'cekung'—maksudnya, harusnya fokus ke data yang cekung," jawab saya ngawur.</p>

<p>Pak Gunawan terdiam cukup lama. Dia lalu tertawa kecil, suara tawa yang tidak pernah kami dengar sebelumnya. "Kamu tahu, Feri? Saya sudah menunggu tiga tahun ada karyawan yang berani bilang begitu ke saya. Akhirnya ada yang jujur. Presentasi kamu hari ini jadi tidak perlu dilakukan, kita ganti agenda hari ini dengan diskusi tentang kenapa kamu mau resign."</p>

<p>Saya tidak dipecat. Pak Gunawan malah mengajak saya makan siang untuk mendengarkan keluh kesah saya tentang sistem kantor. Ternyata, dia juga sadar kalau sistemnya memang membosankan.</p>

<p>Namun, sejak hari itu, saya mendapat julukan "Si Jujur yang Hobi Pingsan". Setiap kali ada rapat yang membosankan, teman-teman kantor saya pasti berbisik, "Feri, coba dong ketik sesuatu yang jujur di grup, biar kita cepat pulang."</p>

<p>Pelajaran hari ini: Jika kamu ingin mengeluh tentang bos, pastikan kamu tidak sedang dalam mode "Jari Lincah" di grup kantor. Tapi kadang, kejujuran—meskipun karena kecelakaan—bisa membuka pintu diskusi yang lebih baik.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah