Iklan Banner Atas

Terjebak dalam "Obrolan Reuni" yang Tak Berujung

<h1>Terjebak dalam "Obrolan Reuni" yang Tak Berujung</h1>

<p>Nama saya Bimo. Hari ini saya hanya ingin satu hal: kopi hitam tanpa gula dan ketenangan. Saya masuk ke kedai kopi langganan saya, memesan, lalu duduk di sudut yang agak gelap. Tapi, sebelum saya sempat membuka buku, seorang pria berjas rapi dengan jam tangan emas yang mencolok menghampiri meja saya.</p>

<p>"Bimo! Wah, gila! Apa kabar, kawan lama?!" serunya dengan antusiasme yang membuat pengunjung lain menoleh.</p>

<p>Saya menatapnya, mencari-cari di memori otak saya siapa orang ini. Tidak ada. Benar-benar kosong. Tapi karena dia sudah memeluk saya dengan sangat akrab, saya memutuskan untuk membalas aktingnya. "Halo! Wah, luar biasa! Apa kabar?"</p>

<p>Dia duduk di depan saya. "Masih ingat tidak sama proyek di kantor lama kita dulu? Yang di Bandung itu? Wah, itu masa-masa tersulit kita ya!"</p>

<p>Saya tidak pernah bekerja di Bandung. Saya belum pernah bekerja di kantor yang punya proyek "sulit". Tapi saya mengangguk mantap. "Betul banget! Masih ingat sekali saya, pusing banget itu dulu."</p>

<p>Percakapan berlanjut. Dia mulai bercerita tentang "teman-teman lama" lainnya yang namanya terdengar seperti nama-nama tokoh di sinetron. Saya terus mengangguk, tertawa di saat yang tepat, dan memberikan komentar umum seperti, "Iya ya, dunia sempit sekali," atau "Wah, sukses banget ya mereka sekarang."</p>

<p>Tiga puluh menit berlalu. Kopi saya sudah dingin. Dia masih terus bercerita tentang istrinya yang sekarang sudah jadi komisaris, tentang koleksi mobilnya, dan tentang betapa "hebatnya" saya dulu di matanya. Saya sudah mulai merasa bersalah. Ini sudah terlalu jauh.</p>

<p>Tepat saat saya hendak mengaku, "Mas, sebenarnya saya bukan Bimo yang itu...", seorang pelayan datang membawa nampan pesanan pria itu.</p>

<p>"Ini pesanan atas nama Bapak Rian, Pak," kata pelayan itu.</p>

<p>Pria itu menoleh, lalu menatap saya dengan bingung. "Lho? Kamu bukan Bimo?"</p>

<p>Saya menggeleng lemah. "Bukan, Pak. Nama saya Bimo, tapi saya tidak pernah kerja di Bandung."</p>

<p>Suasana jadi sangat hening. Dia menatap saya dari atas ke bawah, lalu menatap meja sebelah, di mana ada pria lain yang duduk sendirian dengan wajah yang mirip dengan saya. Pria itu menoleh ke arah kami, tampak bingung.</p>

<p>"Ya ampun," gumam pria itu. "Ternyata kamu orang yang salah. Pantesan dari tadi kamu cuma jawab 'iya' dan 'wah'."</p>

<p>Kami berdua terdiam. Saya merasa sangat bodoh karena sudah menghabiskan waktu setengah jam pura-pura mengenalnya demi menjaga kesopanan yang tidak perlu. Dia juga tampak malu karena sudah membual tentang kesuksesannya kepada orang asing.</p>

<p>Tanpa kata, dia bangkit dari kursi, membawa kopinya, dan pindah ke meja sebelah untuk menemui "Bimo yang asli". Saya mendengar samar-samar dia berkata, "Eh, maaf ya, tadi saya salah orang."</p>

<p>Saya akhirnya bisa menikmati kopi saya dalam ketenangan. Tapi, setelah itu, saya tidak pernah berani memakai kemeja yang sama saat pergi ke kedai kopi itu lagi. Takut kalau tiba-tiba ada "teman lama" lainnya yang salah mengenali saya sebagai orang sukses.</p>

<p>Pelajaran hari ini: Kalau ada orang asing tiba-tiba memelukmu di kedai kopi, lebih baik langsung tanya, "Maaf, kita pernah ketemu di mana ya?", daripada terjebak dalam cerita fiksi selama 30 menit.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah