Iklan Banner Atas

Teror "Cicak Raksasa" di Tengah Malam

<h1>Teror "Cicak Raksasa" di Tengah Malam</h1>

<p>Nama saya Wahyu. Istri saya, Siska, memiliki satu ketakutan irasional yang sangat besar: cicak. Baginya, cicak bukan sekadar reptil kecil, melainkan naga yang siap menerkam kapan saja. Jadi, sebagai suami yang protektif, saya sering memposisikan diri sebagai "pemburu cicak" andalan rumah tangga kami.</p>

<p>Malam itu, pukul dua pagi, Siska membangunkan saya dengan guncangan keras. "Mas! Ada cicak di atas lemari! Gede banget! Tolong buang!" bisiknya dengan wajah pucat pasi.</p>

<p>Saya, yang masih setengah sadar, bangkit dengan perasaan bangga. Ini kesempatan untuk menunjukkan sisi maskulin saya. "Tenang, Sayang. Serahkan pada ahlinya," kata saya dengan suara berat yang dibuat-buat.</p>

<p>Saya mengambil sapu, lalu dengan berani memanjat kursi untuk mencapai puncak lemari pakaian. Cicak itu memang besar. Dia menatap saya dengan tatapan yang menurut saya penuh tantangan. Saya mengayunkan sapu dengan presisi tinggi, namun si cicak ternyata sangat lincah. Dia melompat!</p>

<p>Bukan melompat menjauh, tapi dia justru melompat tepat ke arah wajah saya.</p>

<p>Refleks saya kacau total. Saya berteriak—bukan teriak maskulin, tapi teriakan melengking yang bahkan membuat anjing tetangga menggonggong. Saya terjatuh dari kursi, menabrak meja rias, dan secara tidak sengaja menyenggol lampu tidur hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.</p>

<p>Kaca meja rias retak, koleksi *skincare* mahal Siska tumpah ke mana-mana, dan saya berakhir terjungkal di lantai dengan sapu yang entah bagaimana tersangkut di gorden jendela.</p>

<p>Siska, yang tadinya takut pada cicak, justru berdiri terpaku menatap saya—suaminya yang tergeletak di lantai, berantakan, dengan botol toner menempel di punggung.</p>

<p>"Kamu... kamu teriak seperti anak kecil?" tanya Siska dengan nada yang sulit diartikan.</p>

<p>Saya mencoba bangkit dengan sisa martabat yang ada. "Itu tadi teknik distraksi. Cicaknya pasti bingung melihat saya jatuh, jadi dia tidak berani mendekat lagi."</p>

<p>Cicak itu? Dia dengan santainya berjalan menempel di langit-langit, menatap kami berdua seolah sedang menonton pertunjukan komedi amatir. Malam itu, alih-alih tidur nyenyak, kami menghabiskan waktu dua jam untuk membersihkan pecahan kaca dan tumpahan serum wajah yang harganya mungkin lebih mahal dari cicak itu sendiri.</p>

<p>Sejak hari itu, saya resmi pensiun dari dunia "pemburu cicak". Jika ada cicak lagi, kami sepakat untuk menutup pintu kamar, mematikan lampu, dan membiarkan cicak itu menguasai lemari pakaian sampai pagi. Kadang-kadang, menjadi "pria tangguh" itu terlalu mahal harganya, terutama kalau harus membayar ganti rugi *skincare* istri.</p>

<p>Pelajaran hari ini: Jangan pernah meremehkan cicak, apalagi jika kamu tidak punya persiapan yang matang dan rasa takut yang rendah terhadap kegelapan.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah