<h1>Tragedi Kopi "Seni" dan Kursi Lipat</h1>
<p>Nama saya Fajar. Minggu siang ini, saya memutuskan untuk mengunjungi kafe paling hits di Jakarta Selatan. Tujuannya cuma satu: mendapatkan foto kopi latte art yang sempurna untuk *feeds* Instagram saya. Saya sudah memakai kemeja flanel terbaik, kacamata hitam, dan membawa kamera mirrorless, meski sebenarnya saya lebih sering menggunakan ponsel.</p>
<p>Saya memesan kopi termahal di menu hanya karena namanya terdengar sangat filosofis: "Senja di Ujung Harapan". Harganya seharga makan siang tiga hari, tapi demi konten, saya rela.</p>
<p>Begitu kopi datang, saya mulai beraksi. Saya berdiri di atas kursi lipat besi kafe tersebut agar bisa mendapatkan sudut pandang *flat lay* yang maksimal. Saya sudah mengatur posisi cangkir, menaburkan sedikit bubuk kayu manis, dan menempatkan buku catatan kecil di sampingnya agar terlihat seperti seorang penulis yang sedang mencari inspirasi.</p>
<p>Saya berjinjit, menahan napas, dan memposisikan kamera tepat di atas cangkir. "Satu, dua, tiga..."</p>
<p>Tepat saat saya menekan tombol rana, kursi lipat yang saya pijak—yang ternyata memang tidak dirancang untuk menahan beban pria seberat 75 kilogram yang sedang berakrobat—terlipat sendiri dengan suara "KLAK" yang sangat nyaring.</p>
<p>Saya tidak jatuh ke lantai, tapi saya mendarat dengan posisi duduk sempurna tepat di atas meja kayu kafe tersebut. Kakiku terjepit di antara kaki meja, dan yang lebih tragis, cangkir "Senja di Ujung Harapan" yang harganya mahal itu tumpah tepat di atas celana bahan yang baru saya setrika pagi tadi.</p>
<p>Suasana kafe yang tadinya tenang dan penuh dengan musik *indie* tiba-tiba hening. Semua mata tertuju pada saya. Ada barista yang menatap ngeri, ada sepasang kekasih yang tertawa tertahan, dan ada seorang *influencer* di meja sebelah yang merekam kejadian tersebut tanpa rasa bersalah.</p>
<p>Saya duduk di atas meja, dengan kopi yang masih mengepul di pangkuan, dalam posisi yang sangat tidak estetik sama sekali. Saya tidak tahu harus berbuat apa, jadi saya melakukan hal yang paling logis menurut otak saya yang sedang panik:</p>
<p>Saya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, melakukan *selfie* dengan wajah panik, lalu memasangnya di *story* dengan tulisan: <em>"Life is messy. Literally. #CoffeeLover #UnexpectedMoments."</em></p>
<p>Seorang barista menghampiri saya dengan handuk basah dan tatapan kasihan. "Mas, mau tambah pesanan atau mau saya panggilkan taksi?"</p>
<p>"Mau pulang saja, Mas," jawab saya lirih.</p>
<p>Saat saya berjalan keluar dengan celana basah kuyup dan perasaan hancur, ponsel saya berbunyi. Notifikasi Instagram masuk: "Foto Anda disukai oleh 200 orang."</p>
<p>Ternyata, foto "bencana" saya tadi justru mendapatkan *like* sepuluh kali lebih banyak daripada foto kopi estetik yang gagal saya ambil. Dunia media sosial memang aneh. Terkadang, kegagalan memang jauh lebih menarik daripada kesempurnaan yang dipaksakan.</p>
<p>Sejak hari itu, saya kapok memotret kopi. Sekarang, kalau ke kafe, saya cuma pesan air mineral dalam botol, lalu langsung diminum tanpa perlu dipotret sama sekali.</p>
Tragedi Kopi "Seni" dan Kursi Lipat