Iklan Banner Atas

Tragedi Operasi Senyap Mengambil Pesanan Makanan dari Ojek Online di Tengah Rapat Penting Direksi

<h1>Tragedi Operasi Senyap Mengambil Pesanan Makanan dari Ojek Online di Tengah Rapat Penting Direksi</h1>

<p>Nama saya Arga. Hari ini adalah hari paling sial dalam karier saya. Saya terjebak dalam rapat direksi yang dipimpin oleh Pak Budiman, bos yang terkenal sangat membenci interupsi. Masalahnya, saya lupa sarapan, dan tepat lima menit setelah rapat dimulai, saya mendapatkan notifikasi bahwa pesanan "Nasi Goreng Kambing Pedas Ekstra Cabai" saya sudah sampai di lobi kantor.</p>

<p>Saya tidak mungkin membiarkan nasi goreng itu dimakan oleh tukang parkir. Tapi, jika saya meninggalkan rapat, saya tamat. Maka, saya memutuskan untuk menjalankan "Operasi Senyap".</p>

<p>Saya menulis pesan singkat kepada driver ojek online saya, "Mas, tolong taruh di balik pot tanaman palem di dekat lift lobi. Nanti saya ambil secara rahasia."</p>

<p>Selama presentasi Pak Budiman, saya mulai merencanakan langkah. Saya pura-pura harus ke toilet. "Pak, mohon maaf, saya ada urusan perut mendesak, hanya dua menit," ucap saya dengan wajah yang saya buat seserius mungkin.</p>

<p>Pak Budiman hanya mengangguk tanpa menoleh. Saya berlari keluar ruang rapat, menuruni tangga darurat—bukan lift, karena terlalu berisiko bertemu dengan atasan lain—dan sampai di lobi. Saya menemukan bungkusan nasi goreng di balik pot palem. Aman.</p>

<p>Namun, saat hendak kembali, saya berpapasan dengan Pak Budiman yang ternyata sedang berjalan menuju lobi untuk menyambut klien. Saya tidak punya waktu untuk bersembunyi. Secara naluriah, saya menyembunyikan bungkusan nasi goreng panas itu ke dalam saku dalam jas saya yang tebal.</p>

<p>Bau kambing yang sangat kuat mulai menguar dari saku jas saya. Saya kembali ke ruang rapat dengan keringat dingin bercucuran. Pak Budiman terus menatap saya dengan tatapan curiga. "Arga, apa kamu merasa ada bau yang aneh di ruangan ini?"</p>

<p>"Mungkin bau karpet baru, Pak," jawab saya, sambil berusaha menutupi saku jas saya yang terlihat menonjol dan mulai mengeluarkan uap panas karena suhu nasi goreng di dalamnya.</p>

<p>Tiba-tiba, ponsel saya berdering keras di dalam saku jas. Bukan cuma dering, tapi lagu "Dangdut Koplo" yang saya jadikan *ringtone* khusus agar tidak tertukar. Suaranya bergema di ruangan yang hening itu.</p>

<p>Saya panik. Saya menarik ponsel saya, tapi yang keluar justru bungkusan nasi goreng yang plastik pembungkusnya sudah meleleh sebagian karena panas. Nasi goreng itu jatuh tepat di tengah meja rapat, mendarat dengan dentuman halus di depan dokumen-dokumen penting.</p>

<p>Keheningan yang terjadi sungguh mematikan. Pak Budiman menatap nasi goreng itu, menatap saku jas saya yang basah oleh minyak, lalu menatap saya yang berdiri mematung.</p>

<p>"Arga," suara Pak Budiman terdengar berat. "Ini jenis strategi baru dalam pemasaran? Menaruh nasi goreng di tengah dokumen direksi?"</p>

<p>Saya tidak punya jawaban. Saya hanya bisa mengambil nasi goreng itu, membungkuk 90 derajat, dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Saya akhirnya makan nasi goreng itu di tangga darurat lantai empat, sendirian, sambil menangisi karier saya.</p>

<p>Keajaiban terjadi keesokan harinya. Pak Budiman memanggil saya. Dia tidak memecat saya. Dia justru bilang, "Arga, saya perhatikan kamu sangat gigih mendapatkan apa yang kamu inginkan, bahkan di tengah tekanan besar. Saya suka kegigihan itu. Besok kamu saya pindahkan ke divisi sales."</p>

<p>Ternyata, terkadang ketololan yang dilakukan dengan percaya diri bisa dianggap sebagai "kegigihan" oleh bos yang sudah terlalu bosan dengan karyawan yang terlalu kaku.</p>

<p>Pelajaran hari ini: Jangan pernah mencoba menyelundupkan makanan di tengah rapat direksi, kecuali Anda siap untuk dipindahkan ke divisi sales atau dipecat seketika.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah