Iklan Banner Atas

Tragedi Salah Kirim Chat "Rahasia" ke Grup Keluarga yang Isinya Foto Koleksi Topeng Reog Milik Papa

<h1>Tragedi Salah Kirim Chat "Rahasia" ke Grup Keluarga yang Isinya Foto Koleksi Topeng Reog Milik Papa</h1>

<p>Nama saya Dimas. Saya memiliki hobi yang cukup unik: mengoleksi barang-barang antik yang sedikit "menyeramkan". Minggu lalu, Papa saya baru saja membeli koleksi topeng Reog Ponorogo yang sangat autentik dan tua. Karena saya ingin pamer ke teman komunitas barang antik, saya memotret topeng itu dengan pencahayaan yang dramatis di ruang tengah rumah kami.</p>

<p>Hasil fotonya sangat bagus sekaligus mencekam. Bayangan yang jatuh di mata topeng itu membuatnya tampak seolah-olah sedang menatap langsung ke jiwa siapapun yang melihatnya.</p>

<p>Saya membuka aplikasi WhatsApp. Saya berniat mengirim foto itu ke grup "Pecinta Barang Antik". Tanpa melihat nama grup, saya langsung menekan tombol kirim di kolom chat teratas yang baru saja aktif.</p>

<p>Ternyata, chat teratas saya bukanlah grup komunitas, melainkan grup WhatsApp "KELUARGA BESAR BAHAGIA", grup yang isinya Papa, Mama, kakek, nenek, om, tante, sampai sepupu jauh yang bahkan tidak pernah saya temui.</p>

<p>Begitu foto itu terkirim, saya baru sadar. Tapi, saya terlalu malas untuk menarik pesannya. Saya pikir, "Ah, paling cuma dilihat doang."</p>

<p>Dua menit kemudian, notifikasi masuk bertubi-tubi. Grup keluarga yang biasanya tenang di malam hari mendadak seperti zona perang.</p>

<p>Nenek saya mengirim pesan: <em>"Ya Allah, Dimas! Kenapa kirim foto penunggu rumah di grup? Nenek mau tidur jadi takut!"</em></p>

<p>Tante saya menimpali: <em>"Astagfirullah, itu topeng Reognya Papa kamu kok matanya melotot banget? Kayaknya harus didoain dulu deh, Dim."</em></p>

<p>Papa saya, yang biasanya jarang aktif di grup, tiba-tiba membalas dengan emoji tertawa yang sangat banyak: <em>"Itu bukan penunggu, itu topeng kesayangan Papa! Tapi Dimas, kenapa kamu memotretnya jam 12 malam dengan lampu mati? Kamu mau bikin jantung Kakek copot ya?"</em></p>

<p>Masalah tidak berhenti di situ. Sepupu saya yang masih kecil mengirim stiker orang menangis, dan Mama saya mengirim pesan suara sepanjang dua menit yang isinya menceramahi saya tentang "etika mengirim gambar di grup keluarga yang banyak orang tua".</p>

<p>Saya mencoba memperbaiki keadaan dengan mengirim pesan: <em>"Maaf semua, tadi salah kirim. Itu cuma koleksi Papa."</em></p>

<p>Tapi terlambat. Efek "foto seram" itu sudah tertanam di memori keluarga besar kami. Selama tiga hari berturut-turut, tidak ada yang berani mengirim chat apa pun di grup keluarga. Semua orang trauma karena foto topeng Reog yang "menatap jiwa" itu.</p>

<p>Puncaknya, saat acara makan siang keluarga di hari Minggu, tidak ada yang berani duduk di dekat Papa. Semua orang menatap topeng Reog yang dipajang di ruang tamu dengan penuh kecurigaan, seolah-olah topeng itu akan hidup dan menari kapan saja.</p>

<p>Papa akhirnya memindahkan topeng itu ke gudang karena katanya, "Topeng ini sudah terlalu populer karena Dimas, semua orang jadi takut sama koleksi Papa."</p>

<p>Pelajaran hari ini: Selalu cek dua kali nama penerima pesan sebelum mengirim foto barang koleksi yang terlihat mistis. Dan yang lebih penting lagi, jangan pernah memotret barang antik dengan pencahayaan yang dramatis jika kamu tidak mau keluarga besarmu ketakutan berjamaah.</p>
Iklan Dalam Artikel
Iklan Banner Bawah